Yah, walaupun agak telat hampir sebulan, hype liburan ke Batam yang lalu masih terasa hingga sekarang. Tanggal 23 agustus kemarin, aku dan kawan-kawan dekat rumah; Budi, Hadi, Bagong (selanjutnya disebut kami) pergi berpetualan ke Batam-Tanjung pinang-Penyengat selama 5 hari. Kebetulan (sebenarnya sengaja sih) dapat tiket murah setelah mencari di taravaloko dengan keberangkatan dari Bandara SSQ II-Hang Nadim PP sekitar Rp. 530.000. Tentunya hanya dengan si merah murah yang bisa begini.
Di situs pemesanan, waktu keberangkatan dijadwalkan pukul 10.30 WIB dan karena kami naik si singa, jadinya yah gitu, delay hingga pukul 12.00. Kami naik ke pesawat sebagai penumpang terakhir (haha) setelah akhirnya sadar bahwa panggilan terakhir keberangkatan itu ditujukan untuk kami (haha lagi). Di pesawat, kami mendapat kursi paling belakang--dan tersempit tentunya dan lagi, aku duduk terpisah dari mereka bertiga. Apesnya, di sebelahku ibu-ibu pendiam yang kalau aku ajak bicara hanya diam tanpa merespon. Jadinya yah, gitu, selama perjalanan aku diam, menung, mainin buku bacaan, bernafas, pegang-pegang jendela, dan hal ga penting lainnya. Sedangkan temanku yang bertiga heboh, seru-seruan apalagi si Bagong, masa manggil mbak pramugarinya sayang huehehe jomblo sekarat.
Di situs pemesanan, waktu keberangkatan dijadwalkan pukul 10.30 WIB dan karena kami naik si singa, jadinya yah gitu, delay hingga pukul 12.00. Kami naik ke pesawat sebagai penumpang terakhir (haha) setelah akhirnya sadar bahwa panggilan terakhir keberangkatan itu ditujukan untuk kami (haha lagi). Di pesawat, kami mendapat kursi paling belakang--dan tersempit tentunya dan lagi, aku duduk terpisah dari mereka bertiga. Apesnya, di sebelahku ibu-ibu pendiam yang kalau aku ajak bicara hanya diam tanpa merespon. Jadinya yah, gitu, selama perjalanan aku diam, menung, mainin buku bacaan, bernafas, pegang-pegang jendela, dan hal ga penting lainnya. Sedangkan temanku yang bertiga heboh, seru-seruan apalagi si Bagong, masa manggil mbak pramugarinya sayang huehehe jomblo sekarat.
Sesampainya di batam, kami langsung menuju pelabuhan dengan taksi. Taksi tersebut sempat kami tawar, jadi harga finalnya Rp. 80.000 dari Hang Nadim-Punggur. Dan kampretnya, kami minta antar ke pelabuhan feri, malah diantar ke pelabuhan roro (mungkin karena kami pakai nawar kali ya). Terpaksa deh, jalan sekitar beberapa ratus meter gitu. Dari Batam, kami langsung menuju Tanjung Pinang hari itu juga. Temanku pernah bilang, kalau teh hangat di Tanjung Pinang disebut teh o, dan teh es disebut teh obeng(jangan tanya aku alasannya, serius ga tau), juga berlaku untuk kopi. Sepertinya roti boy KW super yang bernama roti o berasal dari sini soalnya ada toko roti o di pelabuhannya.
Di Tanjung Pinang kami menyewa motor, 80k/hari dengan syarat tinggalin KTP asli. Aku dan Budi menyewa Yamihi Mia, sedangkan Bagong dan Hadi menyewa Hondi Baet. Karena helm yang ada hanya 1, pemilik usaha tersebut membelikan 3 helm baru, helm bocah yang buat anak 5 tahunan itu. Akupun langsung menyelamatkan diri, karena sadar memiliki kepala besar(bukan besar kepala ya), mengambil helm dewasa satu-satunya yang kemudian menyebabkan gatal-gatal di kepala (haha). Dari Tanjung Pinang kami langsung menuju ke daerah Kijang, untuk menginap di rumah mbahnya Bagong. Kami sempat nyasar sih beberapa kali, soalnya Bagong terakhir kesana aja pas kelas 3 SD.
Malamnya, sehabis magrib ketiga temanku dapat telepon dari orang tuanya menanyakan udah sampai dan sebagainya. Mamaku? udah biasa mah anak bujangnya pergi-pergi, jadi ya biasa aja, bukannya ga peduli, tapi menurutku disitulah kita tau bahwa orangtua kita telah percaya sepenuhnya kepada kita. Misalnya aja si bagong, orangtuanya nelpon tadi nyuruh balikin motor yang disewa (yang bener aja) karena menurut mamanya, kalau ada motor pasti kerjaannya keluyuran (yakali namanya juga jalan-jalan).
Malamnya kami keluar juga sih, sekedar jalan-jalan mengenal tempat baru. Esoknya kami jam 7 pagi udah berangkat dengan destinasi pertama pantai trikora. Mengenai pantai trikora, ga mengecewakan dah udah pergi ke sana. Pantainya cantik, putih, bersih, terawat, tinggi semampai, berhijab. Kemudian aku sadar itu kakak-kakak penjual air kelapa. Di beberapa tempat ada bebatuan gitu. Disana kami menyewa pondok gitu, 40k/hari. Banyak yang kami lakukan disana, mulai dari yang mainstream (foto-foto, minum air kelapa dll) hingga anti mainstream seperti lomba lari di air, lomba renang lawan ombak hingga menjemur sempak di pepohonan (maklum backpacker, mesti hemat pakaian huahaha).
Sekitar habis zuhur kami berangkat dari trikora menuju daerah lagoi, yang juga terkenal sebagai Balinya Kepulauan Riau.
Apa aja petualangan kami disana? nantikan bagian duanya, udah ngantuk soalnya.

