4 tahun belakangan, kita mulai sering mendengar Pancasila digaungkan. Seiring dengan itu, radikal dan intoleran tak kalah sering juga diuar. Sebagai orang yang memandang Pancasila dalam kacamata netral--dalam artian tidak fanatik juga tidak anti--tentu awalnya saya senang ada yang mengingatkan kepancasilaan. Namun semakin lama gaungan itu tak hanya sekadar gaungan. Sebagian golongan Pancasila ini bisa dengan gampangnya menuduh orang lain anti Pancasila, makar, dan sebagainya. Aku yang awalnya netral, belakangan malah agak eneg mendengar Pancasila digunakan seenaknya. Kuharap aku ga benci Pancasila karena ini, karena bukan dialah yang salah. Tolong, jangan membuatku benci dengan pancasila.
Tentu saya sadar betul, gerakan yang mirip fanatisme kepada Pancasila ini semakin membesar setelah kasus HTI, yang mana cukup disayangkan ternyata punya agenda tentang negara khilafah. Tetapi reaksi pemerintah yang kutangkap sih terlalu berlebihan padahal mostly member HTI ini salafi, yang notabene tunduk pada penguasa. Katanya sih karena anggotanya jutaan. Katanya.
Berbicara tentang Pancasila dan HTI tentu belum lengkap dong tanpa Banser. Ya, si so-called penjaga Pancasila. Sepak terjangnya belakangan di bawah pimpinan Yakut sangat kontroversial--yang dalam hal ini kuanggap buruk. Berapa kali mereka membubarkan pengajian, membuat prasyarat nyanyi lagu Indonesia Raya sebelum pengajian, hormat ke bendera, dan lain sebagainya. Yang terbaru mereka bakar Ar-Rayah dengan bangganya karena mereka meyakini itu bendera HTI. Apa hak mereka berbuat sedemikian rupa?
Terkadang aku kagum sama Banser ini. Anggotanya yang cukup terkenal, Permadi alias Abu Janda itu seorang maniak Nazi. Ada juga foto anggota Banser berjejer dua barisan berhadapan yang masing-masing hormat ala Hitler. Tapi kok bisa petingginya juga dekat dengan Yahudi yang punya dendam akibat sejarah kelam dengan Hitler? mungkin ini bisa menjadi bahan penelitian bagaimana oportunisme menyatukan semua (haha).
Indonesia punya beberapa ormas islam yang besar yang menurutku belakangan sedang adu kuat-kuatan. NU yang sekarang menurutku terlalu banyak penunggang, baik itu islam nusantara, islam liberal dan ada juga syiah. Oleh karena itu sebagian anggota NU membentuk NU Garis Lurus (NU GL) yang salah satu orang yang vokal menyuarakan itu Ustadz Abdul Somad. Mungkin inilah alasan mereka sering mempersekusi UAS. Dalam menanggapi kasus pembakaran Ar-Rayah pun, NU pecah suara. Tentu Yakut cs istiqomah dengan kengawurannya. Di sisi lain, FPI, MUI dan Muhammadiyah tampak solid. Bahkan UAS lebih memilih HRS daripada SAS (kesimpulan sendiri, setelah melihat beberapa ceramah UAS).
Banser ini kuat di Jawa. Di Sumatera mereka tak bisa apa-apa. Berapa kali mereka ditolak saat hendak mengadakan acara di Sumatera. Bagak kandang, begitulah orang minang menyebutnya. Mereka merasa penafsir tunggal Pancasila, leluasa menghakimi yang beda, padahal menurutku Pancasila itu mengakomodir semua, selama masih sewajarnya.
Dari tindak-tanduk mereka dengan mendaku diri paling Pancasila, menunjuk mereka yang beda sebagai radikal dan intoleran secara leluasa, kelakuan mereka yang seenaknya menjalani tugas polisi dan tentara seolah aparat tidak lagi ada dalam urusan Pancasila--kesampingkan dulu wacana tentang perlakuan hukum yang sama--apalagi polisi tampak mesra dengan mereka, belakangan timbul pertanyaan dalam benak saya;
*******
Tentu saya sadar betul, gerakan yang mirip fanatisme kepada Pancasila ini semakin membesar setelah kasus HTI, yang mana cukup disayangkan ternyata punya agenda tentang negara khilafah. Tetapi reaksi pemerintah yang kutangkap sih terlalu berlebihan padahal mostly member HTI ini salafi, yang notabene tunduk pada penguasa. Katanya sih karena anggotanya jutaan. Katanya.
Berbicara tentang Pancasila dan HTI tentu belum lengkap dong tanpa Banser. Ya, si so-called penjaga Pancasila. Sepak terjangnya belakangan di bawah pimpinan Yakut sangat kontroversial--yang dalam hal ini kuanggap buruk. Berapa kali mereka membubarkan pengajian, membuat prasyarat nyanyi lagu Indonesia Raya sebelum pengajian, hormat ke bendera, dan lain sebagainya. Yang terbaru mereka bakar Ar-Rayah dengan bangganya karena mereka meyakini itu bendera HTI. Apa hak mereka berbuat sedemikian rupa?
Terkadang aku kagum sama Banser ini. Anggotanya yang cukup terkenal, Permadi alias Abu Janda itu seorang maniak Nazi. Ada juga foto anggota Banser berjejer dua barisan berhadapan yang masing-masing hormat ala Hitler. Tapi kok bisa petingginya juga dekat dengan Yahudi yang punya dendam akibat sejarah kelam dengan Hitler? mungkin ini bisa menjadi bahan penelitian bagaimana oportunisme menyatukan semua (haha).
Indonesia punya beberapa ormas islam yang besar yang menurutku belakangan sedang adu kuat-kuatan. NU yang sekarang menurutku terlalu banyak penunggang, baik itu islam nusantara, islam liberal dan ada juga syiah. Oleh karena itu sebagian anggota NU membentuk NU Garis Lurus (NU GL) yang salah satu orang yang vokal menyuarakan itu Ustadz Abdul Somad. Mungkin inilah alasan mereka sering mempersekusi UAS. Dalam menanggapi kasus pembakaran Ar-Rayah pun, NU pecah suara. Tentu Yakut cs istiqomah dengan kengawurannya. Di sisi lain, FPI, MUI dan Muhammadiyah tampak solid. Bahkan UAS lebih memilih HRS daripada SAS (kesimpulan sendiri, setelah melihat beberapa ceramah UAS).
Banser ini kuat di Jawa. Di Sumatera mereka tak bisa apa-apa. Berapa kali mereka ditolak saat hendak mengadakan acara di Sumatera. Bagak kandang, begitulah orang minang menyebutnya. Mereka merasa penafsir tunggal Pancasila, leluasa menghakimi yang beda, padahal menurutku Pancasila itu mengakomodir semua, selama masih sewajarnya.
Dari tindak-tanduk mereka dengan mendaku diri paling Pancasila, menunjuk mereka yang beda sebagai radikal dan intoleran secara leluasa, kelakuan mereka yang seenaknya menjalani tugas polisi dan tentara seolah aparat tidak lagi ada dalam urusan Pancasila--kesampingkan dulu wacana tentang perlakuan hukum yang sama--apalagi polisi tampak mesra dengan mereka, belakangan timbul pertanyaan dalam benak saya;
Pancasila Milik Siapa?