LGBT; Mereka di Sekitar Kita

Jadi gini, sekitar dua minggu yang lalu, aku disuruh membeli -atau lebih tepatnya mencari- obat diare, sebut saja neo entrostip. Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah dua malam. Setelah berkeliling mencari, akhirnya aku menemukan apotik yang masih buka. Kemudian aku masuk ke toko, menanyakan obat tadi kepada bapak penjualnya. "Alhamdulillah ada", pikirku. Well, sampai bagian ini everything seems normal. Jadi kemudian setelah aku membayar obat tadi dan pas mau keluar dari apotik tersebut, bapak tadi manggil lagi.

Percakapannya begini kira-kira :
B (bapak penjaga apotik) : dek, ini ada sabun untuk kulit, cocok buat hilangkan jerawat, biang keringat, dll
A (aku) : (planga-plongo)
B : biasanya kan kalau kita pakai singlet atau roll on, ada bekas di kulit. nah, bekas itu bisa hilang pakai sabun ini
A : (mulai tertarik) berapaan pak harganya?
B : Rp. 15.000 dek. kalau pakai sabun ini, bekas-bekas pemakaian singlet atau roll on di badan bisa hilang (seraya memegang-megang daerah yang disebutkan tadi di badanku)
A : (diam memperhatikan)
B : atau bisa juga, kalau ada bekas-bekas pemakaian celana, atau karet celana dalam, bisa juga. disini nih (meraba aku lagi)
A :  (mulai risih)
B : atau kan ada nih kadang di selangkangan bekas karet celana dalam, atau di antara kedua kaki, tergesek-gesek bisa juga hilang bekasnya (sambil meraba daerah yang disebutkan)
A : (risih, tapi semacam penasaran. bener ga ini orang golongan LGBT atau ngga. sekalian menguji apakah si john di bawah bereaksi atau tidak)
B : (mengulangi) dekat selangkangan atau antara kedua kaki, kalau ada bekasnya bisa juga hilang (sembari meraba (lagi), dan sesekali clingak-clinguk ke luar, takut ketahuan kali)
A : oke fix ini maho dan alhamdulillah si john ga merespon (dalam hati). ooh yaudah pak, kapan-kapan aja
B : ga masalah, ga mesti sekarang dek
A : (ngacir) 

Anjrit pengalaman pilu, mungkin bisa masuk koran MX di bagian black xstory. Awalnya kupikir bapak tadi promo sabun sambil megang gitu karena profesionalitas. Dan juga aku mau membuktikan, ternyata ga ada sedikitpun dari aku bagian dari mereka dengan bukti si john-ku tidak "tegang".
huahahaha.
Alasan aku menganggap bapak itu fix LGBT yang pertama dia meraba-raba. Bagaimanapun, meskipun sesama batangan juga, meraba selangkangan bagian dalam dekat daerah testis pasti rasanya agak gimana gitu. Dan berulang-ulang. Kedua, apa dasar dia melihat-lihat ke luar pada saat meraba-raba? apakah takut kalau-kalau ada orang lain melihat? dan yang terakhir, kejadiannya pas lagi hangat-hangatnya isu bang ipul. Tentu saja aku jadi mikir kesana.

Dan begitulah aku mengalami kisah pilu ini, awas bagi kalian yang cowok, zaman sekarang bukan cewek aja yang berbahaya kalau keluar malam. Salah-salah ntar kena seruput tuh belalai. Bukan berarti cewek aman-aman aja. Pokoknya tetap waspada kalau keluar malam guys. 

Pesan moral : kumis dan jenggot tidak bisa jadi acuan bahwa orang tersebut bukan kaum LGBT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dualisme Entitas: Auditor dan Pemeriksa di Kejaksaan

  Udah lama juga ya ga nulis (hehe). Ini tulisan pertamaku sejak aku lulus jadi PNS di Kejaksaan dengan formasi auditor. Jadi di Kejaksaan i...