It Is Pagang, Boi

Beberapa waktu lalu aku pergi ke Pulau Pagang. Namanya masyarakat Riau, kalau liburan hemat ya ke Sumbar, ehe. Area wisata di Riau sih ada beberapa, tapi  sedari dulu sebagian masyarakat terdoktrin dengan 'kalau masih di Riau ya bukan liburan namanya' (termasuk aku haha). Pulau ini masuk wilayah Sumatera Barat. Butuh sekitar 50 menit  dari Bungus.

Kami tiba malam hari, langsung cek in di Cavery Beach hotel. Lebih tepat disebut cottage deh rasanya, soalnya kamar kami nginap itu seperti kamar kos, dua kamar bersebelahan. Tapi lokasinya strategis, langsung menghadap laut. Cocok buat berbulanmadu, suara ena-ena bisa diredam oleh ombak (haha). Kami pergi berempat, menyewa hanya 1  kamar. Maklum, budget traveler. Alhasil  yah gitu, kami tidur berdempetan seperti ikan sarden karena kasurnya cuma satu.

Paginya aku dibangunkan oleh deburan ombak. Agak kesiangan  sih, untung masih sempat subuhan. Tanpa ba bi bu langsung aku keluar kamar, menyusuri garis pantai, nyari umang-umang (sebagian orang menyebutnya kelomang), manjat pohon yang tumbuh dekat pantai, dll. Temanku yang bawa mobil masih tidur, kecapekan. Sekitar pukul 9 pagi si beliau ini bangun. Langsung dah kami suruh bergegas siap-siap, kami bilang ke dia bahwa jadwal cek out  jam 10 pagi (padahal jam 12 siang).

Setelah cek out, kami pun berangkat ke pulau pagang. Untuk mencapai ke sana (dan beberapa pulau lainnya) sih kata temanku hanya sekitar 100 ribu, jangan  ambil paket wisata katanya. Sialnya kami hanya menemukan yang paketan. 250 ribu per kepala. Setelah nego, dapatlah 210 ribu per kepala. Kami bayar 850 ribu untuk berempat, tapi ga dikasih kembaliannya. Sialan.

skandal
Kami seperjalanan dengan kakak-adik yang cukup berumur, 40-45 tahun sih taksiranku. Mereka minta kami manggil mereka kakak aja (mereka manggil kami adek-adek montok). Yang bener aja, masa manggil kakak ke orang yang umurnya hampir sama dengan umur ibuku. Jadi yah gitu, terkadang ada pertentangan batin saat mau memanggil mereka, kadang manggil kakak, kadang tante, kadang ibu. Sepanjang perjalanan ke Pagang, temanku yang nyupir bawaannya galau aja. Lagi ribut dengan pacarnya. Karena tau hal tersebut, mulai deh tante-tante tadi godain kawanku ini. Tante-tante ini katanya berasal dari Ujung Batu. Salah satunya cerita bahwa ia baru cerai. Faedahnya share ke random people yang baru ditemui apaan anjir.

Setelah 50 menit bersama tante, akhirnya kami tiba di Pulau Pagang. Bye, have a wonderful day. Tadinya sih mau bilang gitu ke tante-tante itu, tapi ternyata bukan untuk di kapal aja, kami sepaket dengan tante-tante itu sampai pulang dari Pagang (ya allah). Secara personal aku ga ada masalah sih, tapi siapa coba yang mau liburannya direcokin tante-tante? asdfasdasfas.

dari kamera hp, tanpa filter apapun

Pulau Pagang ini lautnya cantik bener  deh. Ada gradasi warna air di dekat pantainya disebabkan oleh kedalaman airnya. Biru laut, keunguan, biru muda, ada tosca juga. Pasirnya putih bersih. Cantik deh. Kami sempat nemu  ubur-ubur juga. Banyak ikan warna-warni di perairan dangkalnya. Pulau ini berdekatan dengan Pulau Pamutusan dan Pulau Pasumpahan.

Dalam paket wisata ke Pagang, ada sesi foto dalam laut di dekat terumbu karang. Namun ternyata Pulau Pagang ga se-friendly penampakannya. Ternyata selain banyak ikan, perairan dangkalnya juga banyak bulu babi. Aku dan seorang temanku kena bulu babi. Perih euy. Pas kena bulu babi, kami tanyakan ke orang travelnya,  tapi mereka ternyata ga punya obat atau apapun untuk sekadar menutup luka. Kami tanyakan soalnya kan kenanya di lokasi yang mereka pilih untuk underwater photo.

Paket berikutnya  naik banana boat. Tante-tante tadi ikutan juga. Seperti biasa, banana boat akan menjatuhkan penumpangnya di sesi  terakhir. Setelah melihat make  up si tante luntur karena nyebur ke laut, kami putuskan tak akan memakai panggilan lain selain 'ibu' ke tante-tante ini.

tim lengkap

the view is lit AF

Selanjutnya kami ke Pulau Pasumpahan. Ada semacam bukit yang ga tinggi-tinggi amat, yang kalau naik ke puncaknya bisa kita lihat pemandangan indah pulau-pulau sekitarnya. Sayangnya keindahan ini terusak oleh sampah-sampah yang tampak di beberapa titik, walaupun tak banyak sih. Di puncaknya berkibar bendera merah putih (kaya di gunung aja).

f.r.i.e.n.d.s.h.i.p

Kemudian kami ke Pulau Suwarnadwipa  (masih dalam paket perjalanan). Berhubung parkiran kapalnya penuh, kami batal ke Suwarnadwipa. Langsung kembali ke Bungus (ga ada pengganti katanya). Setibanya di Bungus, kami minta file foto bawah air tadi. Ga ngerti juga setelah kami serahkan flashdisk, orang travelnya kekeuh bilang ntar fotonya dikirim via gmail. Setelah kami pergi dari Bungus, kami bingung. Gimana bisa mereka berjanji ngirim foto via gmail tanpa minta alamat gmail kami? asdasdafasdsaf.

Sepulang ke  rumah,  kami cari info travel tersebut. Kami dapat nomornya, tapi tiap nelpon ga pernah diangkat. SMS pun ga pernah dibalas. Nomor tersebut ter-link dengan akun Line. Kami coba hubungi, ga ada respon  sama sekali. Beberapa hari kemudian, masuk notifikasi Line dari pihak travel,  ternyata broadcast doang. Telor. Bisa-bisanya mereka promosi ke pelanggan  yang  minta kirim foto (yang ga pernah digubris). Masuk blacklist dah ini travel. Nama travelnya sih kurang tau, tapi contact person dan  orang yang melayani kami saat itu namanya Andi.

Nah ya gitu, perjalanan berakhir bahagia berhias dongkol. 

Trip to Langkuik Tamiang Waterfall

Sebagai mahasiswa yang lambat tamat, aku sering diajak teman-temanku yang akan ikut tes mencari kerja. Sebagai pemandu sorak mungkin. Dan tentu aku dengan senang hati ikut, tapi dengan syarat ada jalan-jalannya setelah tes.

Kira-kira setahun lalu temanku mengajakku ikut, temani tes di Sumbar katanya. Aku pun ikut. Dari kotaku ke lokasi tes memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi berhubung teman yang bawa ini pro, perjalanan kami tempuh sekitar 6,5 jam saja. GG emang. Padahal  berangkatnya malam sampai subuh, tanpa kopi pula.

Tes pun usai keesokan harinya. Sesuai janji (teman yang ngajak ini tepat janji terus) kami pun sibuk mencari destinasi trip yang bagus. Referensinya bisa dari google atau sosial media, ada juga nanya ke teman yang tinggal di daerah Sumbar. Untuk referensi dari instagram, hati-hati deh. Banyak yang over-edited, sehingga saat tiba di lokasi tidak sesuai ekspektasi. Karena sudah lama ga ke air terjun, aku pun menyarankan mereka ke air terjun aja.

Tibalah kami di daerah malalak, sicincin. Kami berhenti di kedai warga, bertanya mengenai air terjun di daerah sekitar sana. Ternyata ada banyak. Ada langkuik tinggi, langkuik tamiang, terus ada juga air terjun yang ada semacam patung pisau gitu yang katanya dulu daerah latihan Kopassus, satunya lagi lupa namanya.

Awalnya kami mau ke langkuik tinggi, yang katanya tingginya sekitar 100 meter, tapi di sana dilarang berenang karena debit airnya terlalu deras. Saat sampai di dekat jalan masuk ke air terjun tersebut, ternyata jalan menuju ke sana ditutup. Sedang ada sengketa antardesa katanya. Beralih ke plan B. Kami putar arah menuju langkuik tamiang.

Sampai akhirnya kami di jalan yang katanya menuju langkuik tamiang. Kami memakai jasa guide setempat, seorang mahasiswa UNAND (lupa namanya). Jalan menuju air terjun melewati hutan. Kami agak kaget kok di hutan tersebut banyak pohon yang ditebang. Ternyata itu pohon kayu manis, sedang panen katanya.

Penampakannya
Temanku bilang perjalanannya seperti naik gunung(belum pernah naik gunung--walaupun sangat ingin-- jadi  kuiyakan aja) yang mana kalau berpapasan di jalan, kita selalu dipanggil pak. Meskipun yang manggil pak itu seumuran ayahku (haha). Si Guide bercerita, air terjun ini termasuk yang kurang terekspos, jadi masih alami. Sekitar tahun 2014 ada anak SMA pergi ke air terjun tersebut, tapi naas, tiba-tiba ada air bah. Korban dinyatakan hilang.

Ditemukan manusia harimau
Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami sampai di lokasi. Letihku terbayar lunas. Berasa air terjun pribadi, karena hanya kami yang ada di lokasi. Debit airnya sedang kecil sih kata si Guide. Airnya dingin, bening, bersih. Mau minum langsung teguk. Terbaique. Aku langsung nyebur dong, kapan lagi kan nemu air terjun seperti ini. Yang lain masih foto-foto, aku udah topless, langsung ke tempat airnya mengalir. Bertapa kaya di Naruto.

Dua jam lebih kami di air terjun. Di perjalanan pulang, temanku kena lintah (FYI, sekitar 1/5 treknya melewati aliran sungai). Karena habis dari sungai, sendalku putus. Basah-basahan + tanah lembek beneran kombo yang buruk bagi sendal user. Sialnya di rombongan hanya aku yang pakai sendal. Pas balik dari air terjun, nyeker sendiri.

Berhubung pakaian ditinggal di mobil, ga ada dari kami yang ganti baju setelah basah-basahan. Kami pun mencari mesjid terdekat untuk mandi. Tak lupa sebelum itu kami kasih si Guide tip 100 ribu. Ketemu mesjid yang kamar mandinya berbilik-bilik gitu, tiap bilik bersekat setinggi 1 meter. Ada 6 bilik,  cukup untuk kami yang hanya 5 orang. Saat mandi divideokan pula oleh kawan yang mandi di bilik paling ujung. Kampret emang. Aib. Untungnya ga disebar dan jadi viral.

Sekian dulu deh rasanya, adieu~





Bertarung di air terjun

Dualisme Entitas: Auditor dan Pemeriksa di Kejaksaan

  Udah lama juga ya ga nulis (hehe). Ini tulisan pertamaku sejak aku lulus jadi PNS di Kejaksaan dengan formasi auditor. Jadi di Kejaksaan i...