Sebagai mahasiswa yang lambat tamat, aku sering diajak teman-temanku yang akan ikut tes mencari kerja. Sebagai pemandu sorak mungkin. Dan tentu aku dengan senang hati ikut, tapi dengan syarat ada jalan-jalannya setelah tes.
Kira-kira setahun lalu temanku mengajakku ikut, temani tes di Sumbar katanya. Aku pun ikut. Dari kotaku ke lokasi tes memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi berhubung teman yang bawa ini pro, perjalanan kami tempuh sekitar 6,5 jam saja. GG emang. Padahal berangkatnya malam sampai subuh, tanpa kopi pula.
Tes pun usai keesokan harinya. Sesuai janji (teman yang ngajak ini tepat janji terus) kami pun sibuk mencari destinasi trip yang bagus. Referensinya bisa dari google atau sosial media, ada juga nanya ke teman yang tinggal di daerah Sumbar. Untuk referensi dari instagram, hati-hati deh. Banyak yang over-edited, sehingga saat tiba di lokasi tidak sesuai ekspektasi. Karena sudah lama ga ke air terjun, aku pun menyarankan mereka ke air terjun aja.
Tibalah kami di daerah malalak, sicincin. Kami berhenti di kedai warga, bertanya mengenai air terjun di daerah sekitar sana. Ternyata ada banyak. Ada langkuik tinggi, langkuik tamiang, terus ada juga air terjun yang ada semacam patung pisau gitu yang katanya dulu daerah latihan Kopassus, satunya lagi lupa namanya.
Awalnya kami mau ke langkuik tinggi, yang katanya tingginya sekitar 100 meter, tapi di sana dilarang berenang karena debit airnya terlalu deras. Saat sampai di dekat jalan masuk ke air terjun tersebut, ternyata jalan menuju ke sana ditutup. Sedang ada sengketa antardesa katanya. Beralih ke plan B. Kami putar arah menuju langkuik tamiang.
Sampai akhirnya kami di jalan yang katanya menuju langkuik tamiang. Kami memakai jasa guide setempat, seorang mahasiswa UNAND (lupa namanya). Jalan menuju air terjun melewati hutan. Kami agak kaget kok di hutan tersebut banyak pohon yang ditebang. Ternyata itu pohon kayu manis, sedang panen katanya.
Temanku bilang perjalanannya seperti naik gunung(belum pernah naik gunung--walaupun sangat ingin-- jadi kuiyakan aja) yang mana kalau berpapasan di jalan, kita selalu dipanggil pak. Meskipun yang manggil pak itu seumuran ayahku (haha). Si Guide bercerita, air terjun ini termasuk yang kurang terekspos, jadi masih alami. Sekitar tahun 2014 ada anak SMA pergi ke air terjun tersebut, tapi naas, tiba-tiba ada air bah. Korban dinyatakan hilang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami sampai di lokasi. Letihku terbayar lunas. Berasa air terjun pribadi, karena hanya kami yang ada di lokasi. Debit airnya sedang kecil sih kata si Guide. Airnya dingin, bening, bersih. Mau minum langsung teguk. Terbaique. Aku langsung nyebur dong, kapan lagi kan nemu air terjun seperti ini. Yang lain masih foto-foto, aku udah topless, langsung ke tempat airnya mengalir. Bertapa kaya di Naruto.
Dua jam lebih kami di air terjun. Di perjalanan pulang, temanku kena lintah (FYI, sekitar 1/5 treknya melewati aliran sungai). Karena habis dari sungai, sendalku putus. Basah-basahan + tanah lembek beneran kombo yang buruk bagi sendal user. Sialnya di rombongan hanya aku yang pakai sendal. Pas balik dari air terjun, nyeker sendiri.
Berhubung pakaian ditinggal di mobil, ga ada dari kami yang ganti baju setelah basah-basahan. Kami pun mencari mesjid terdekat untuk mandi. Tak lupa sebelum itu kami kasih si Guide tip 100 ribu. Ketemu mesjid yang kamar mandinya berbilik-bilik gitu, tiap bilik bersekat setinggi 1 meter. Ada 6 bilik, cukup untuk kami yang hanya 5 orang. Saat mandi divideokan pula oleh kawan yang mandi di bilik paling ujung. Kampret emang. Aib. Untungnya ga disebar dan jadi viral.
Sekian dulu deh rasanya, adieu~
Kira-kira setahun lalu temanku mengajakku ikut, temani tes di Sumbar katanya. Aku pun ikut. Dari kotaku ke lokasi tes memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi berhubung teman yang bawa ini pro, perjalanan kami tempuh sekitar 6,5 jam saja. GG emang. Padahal berangkatnya malam sampai subuh, tanpa kopi pula.
Tes pun usai keesokan harinya. Sesuai janji (teman yang ngajak ini tepat janji terus) kami pun sibuk mencari destinasi trip yang bagus. Referensinya bisa dari google atau sosial media, ada juga nanya ke teman yang tinggal di daerah Sumbar. Untuk referensi dari instagram, hati-hati deh. Banyak yang over-edited, sehingga saat tiba di lokasi tidak sesuai ekspektasi. Karena sudah lama ga ke air terjun, aku pun menyarankan mereka ke air terjun aja.
Tibalah kami di daerah malalak, sicincin. Kami berhenti di kedai warga, bertanya mengenai air terjun di daerah sekitar sana. Ternyata ada banyak. Ada langkuik tinggi, langkuik tamiang, terus ada juga air terjun yang ada semacam patung pisau gitu yang katanya dulu daerah latihan Kopassus, satunya lagi lupa namanya.
Awalnya kami mau ke langkuik tinggi, yang katanya tingginya sekitar 100 meter, tapi di sana dilarang berenang karena debit airnya terlalu deras. Saat sampai di dekat jalan masuk ke air terjun tersebut, ternyata jalan menuju ke sana ditutup. Sedang ada sengketa antardesa katanya. Beralih ke plan B. Kami putar arah menuju langkuik tamiang.
Sampai akhirnya kami di jalan yang katanya menuju langkuik tamiang. Kami memakai jasa guide setempat, seorang mahasiswa UNAND (lupa namanya). Jalan menuju air terjun melewati hutan. Kami agak kaget kok di hutan tersebut banyak pohon yang ditebang. Ternyata itu pohon kayu manis, sedang panen katanya.
![]() |
| Penampakannya |
![]() |
| Ditemukan manusia harimau |
Dua jam lebih kami di air terjun. Di perjalanan pulang, temanku kena lintah (FYI, sekitar 1/5 treknya melewati aliran sungai). Karena habis dari sungai, sendalku putus. Basah-basahan + tanah lembek beneran kombo yang buruk bagi sendal user. Sialnya di rombongan hanya aku yang pakai sendal. Pas balik dari air terjun, nyeker sendiri.
Berhubung pakaian ditinggal di mobil, ga ada dari kami yang ganti baju setelah basah-basahan. Kami pun mencari mesjid terdekat untuk mandi. Tak lupa sebelum itu kami kasih si Guide tip 100 ribu. Ketemu mesjid yang kamar mandinya berbilik-bilik gitu, tiap bilik bersekat setinggi 1 meter. Ada 6 bilik, cukup untuk kami yang hanya 5 orang. Saat mandi divideokan pula oleh kawan yang mandi di bilik paling ujung. Kampret emang. Aib. Untungnya ga disebar dan jadi viral.
Sekian dulu deh rasanya, adieu~
![]() |
| Bertarung di air terjun |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar