Sudah lama saya berhenti menonton televisi. Terakhir saya rutin menonton televisi adalah pada era film kartun masih banyak tayang di hari Minggu. Kemudian intensitasnya berkurang seiring berkurangnya tayangan film kartun. Hingga akhirnya berhenti total dalam beberapa tahun belakangan.
Kita pernah punya acara yang cukup berkualitas pada zamannya. Sebut saja Tersanjung, Wiro Sableng, Si Toloy, MTV Ampuh, Kuis Siapa Berani (kalau yang ini masih ada sampai sekarang di TVRI) dll. Ah, good ol' days. Saya heran entah apa yang menyebabkan acara-acara di televisi bergeser hingga semeleset ini. Apakah karena budaya menerima apapun dari masyarakat, atau ketidakpedulian awak media dalam mencerdaskan (atau setidaknya ga menggoblokkan) masyarakat, ataukah gabungan keduanya?
Saya sih ga terlalu masalah terhadap acara-acara saduran dari televisi luar semisal Who Wants to be a Millionaire, Indonesian Idol, Indonesia's got Talent dan sejenisnya toh jika memang bagus, apa salahnya? Setidaknya diharapkan saduran itu bisa memberi inspirasi untuk membuat tayangan bagus di kemudian hari, cukup bagus sehingga kita yang biasa menyadur menjadi yang disadur. Kendati demikian, bukan acara total plagiat seperti shitnetron sinetron Kau Yang Berasal Dari Binatang Bintang yang membuat malu level antarnegara.
Bagiku tayangan-tayangan di televisi itu sama saja, apapun channelnya. Hanya beda judul/nama. Konsepnya sama; lawakan garing body shaming, penonton bayaran, sinetron genre musiman (misalnya genre tertentu laku, semua channel ikutan bikin genre yang sama), acara mistis-mistis buatan yang 'menjual' setan, dan yang paling parah menurutku yaitu acara fake yang dikesankan nyata seperti Termehek-Mehek dan Katakan Putus.
Mengapa berbahaya? sinetron, mau seasli apapun dibuat tetap kita tahu bahwa itu fiktif belaka. Dulu pernyataan ini sering dimuat sebelum sinetron tayang, tapi sekarang ga pernah kelihatan. Unnecessary they think, probably. Berbeda dengan acara fake yang terkesan nyata ini, tanpa disclaimer apapun. Banyak yang percaya bahwa kejadian percekcokan/drama itu nyata. Padahal itu hanya cekcok/drama settingan yang diperankan oleh mereka yang gagal ngartis.
Coba bayangkan, masyarakat yang awalnya percaya, kemudian seiring berjalannya waktu sadar bahwa itu hanya settingan, mulai berhenti menontonnya. Kemudian acaranya naik ke level 'real' berikutnya. Kemudian masyarakat sadar lagi. Begitu terus berulang siklusnya. Hingga akhirnya masyarakat terkena skizofrenia massal, tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata, mana settingan. Lihat saja yang baru-baru ini kasus penggerebekan oleh Vicky Prasetyo. Masyarakat langsung men-judge bahwa itu settingan. Padahal jika itu nyata, kita telah kehilangan empati atas duka sesama. Yah walaupun aku juga yakin itu settingan sih (haha).
Sesekali ada sih saya nonton acara televisi, tapi di youtube. Kebanyakan sih acara berita/debat politik/investigasi. Meskipun kurang up to date (karena biasa muncul di youtube beberapa jam setelah tayang di televisi) tapi bisa kita setting speed x2 ehehe hemat waktu lebih dari 60% karena ga ada iklan juga.
Melalui tulisan ini, saya berharap saluran-saluran televisi di Indonesia ke depannya bisa memiliki kualitas yang bagus dan layak tonton. Untuk pemilik media, tolonglah hentikan acara-acara tidak bermutu. Jika tidak bisa mencerdaskan, setidaknya jangan menggoblokkan. Dan kita, sebagai konsumen, ayo bersikap kritis. Jika kita mau berhenti menonton acara-acara nirfaedah, mungkin media juga akan berubah. Yah tapi walau bagaimanapun, aku tetap pada posisi awalku : Ayo Matikan Televisimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar