Bolehkah seorang Ateis berharap?

Sebelumnya saya  tegaskan dulu standing ground saya. Saya teis. Saya beragama. Tuhan memiliki saya (bukan kebalikannya, terlalu lancang rasanya mendaku memiliki Tuhan). 


Sejak adanya media sosial, cukup banyak saya temukan netizen-netizen yang mengaku ateis. Pada umumnya, mereka yang mendaku diri sebagai ateis itu hanya ingin show off intelektualitas, semacam butuh pengakuan bahwa pikirannya itu out of the box, against the system, dan sebagainya. Namun sekalinya tersandung masalah, mengeluhnya ke Tuhan juga. Misalnya dengan parodi-sarkastik mengganti kalimat oh my god menjadi oh my goat (kambing adalah metafor dari Baphomet, yang disembah pemuja setan).  Padahal ateisme dengan satanisme itu beda, lho. 

Mari sekilas kita lihat dari sisi sejarahnya. Pada abad ke-20 hingga saat ini, ateis didefinisikan sebagai tidak memercayai keberadaan Tuhan atau Dewa-Dewi atau kekuatan apapun di luar kuasa manusia. Pada abad ke-18 dan sebelumnya, ateis digunakan untuk menyebut seseorang yang Tuhannya berbeda dengan yang dianut si penyebut. Misalnya umat kristen menyebut umat helenis Yunani dengan sebutan ateis, atau orang Romawi kuno menyebut umat kristen ateis karena tidak memercayai Dewa-Dewi pagan mereka.

Saat ini, umumnya mereka yang ateis menganut filosofi realis-logis; bahwa Tuhan itu tidak nyata karena tidak ada buktinya. Menolak keberadaan Tuhan. Menganggap bahwa dunia ini bergerak atas dasar kausalitas. one thing affects another. Nah, apabila seorang ateis berharapmisalkan berharap esok pagi turun hujankepada apakah ia berharap? Tentu bukan kepada Tuhan, karena mereka menolak keberadaanNya. Juga bukan kepada Dewa-Dewi. Juga bukan kepada entitas apapun itu yang Mahasegala di luar kemampuan manusia. Dan tentu saja bukan kepada hujan, karena mereka tahu hujan itu terbentuk karena hukum kausalitas, bukan berdiri sendiri dan mempunyai kehendak.

Jadi menurutku sih real ateis itu ga mungkin berharap. Karena jika ia berharap, seharusnya titel ateisnya invalid. Karena secara tidak langsung ia percaya akan keberadaan entitas Mahakuasa. Atau setidaknya berharapnya hanya terbatas pada makhluk yang mempunyai kehendak sendiri. Jika seorang ateis ingin hujan turun, misalnya, maka  ia sendiri (dan/atau dengan teknologi yang ada) yang harus mengupayakannya. Mungkin dengan menyewa helikopter kemudian menebar garam ke awan di atas daerah yang diinginkannya untuk turun hujan. Andai hujan tidak turun sesuai keinginan, ya mau gimana lagi.

Beruntungnya seorang teis mempunyai privilege  yang disebut doa. Doa adalah bentuk seorang teis menyampaikan harapan terhadap hal-hal di luar kendalinya. Harapan yang ditujukan entah itu kepada Tuhan, Dewa-Dewi, entitas Mahakuasa, dan sebagainya tergantung yang dipercayainya. Selama ada entitas Mahakuasa yang dipercayai, seseorang tidak dapat menyebut diri ateis. Seharusnya.

Jadi jika ada orang yang Anda  kenal  mengaku ateis dan suatu ketika ia keceplosan berharap kepada  selain makhluk yang mempunyai kehendak sendiri, coba tanyakan kepadanya: harapan itu ditujukan ke  apa/siapa? ehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dualisme Entitas: Auditor dan Pemeriksa di Kejaksaan

  Udah lama juga ya ga nulis (hehe). Ini tulisan pertamaku sejak aku lulus jadi PNS di Kejaksaan dengan formasi auditor. Jadi di Kejaksaan i...