KKN Hypee!!

Musim KKN tiba. Mahasiswa di bawahku mulai sibuk mencari lokasi KKN yang 'enak'. Dalam hal ini definisi enak mereka beragam, mulai dari lokasinya dekat kota, banyak tempat wisata, atau sekedar dekat dari rumah.

Meskipun setahun berlalu setelah aku melewati masa KKN, masih banyak kenangan yang aku ingat jelas hingga saat ini. Kelompok KKN kami beranggotakan 15 orang, dengan 4 laki-laki dan 11 perempuan. Dan aku adalah *ehm* Kordes (Koordinator Desa) di kelompokku. Susah memang menyatukan pikiran dengan berbagai manusia dengan latarbelakang beragam yang secara tak sengaja disatukan dalam satu rumah.

Jika dilihat dari lokasi, tempat KKN ku terbilang favorit kebanyakan orang. Hanya 1 jam dari kota Pekanbaru, sudah ada listrik, air lancar, dan sudah cukup maju dengan komparasi tempat KKN kebanyakan. 

Di kelompokku ada satu cewek (cakep gan) bisa ngelihat 'mereka', para makhluk astral. Dia sering cerita padaku tentang penampakan-penampakan di sekitar posko KKN juga cerita kalau malam ia sering diganggu saat tidur. Dia bilang hanya cerita padaku karena kalau cerita ke anggota lain mungkin mereka akan panik, karena sejak awal kami menempati posko, kami telah diperingati sama Korcam (Koordinator Camat) yang juga berada dalam kelompokku bahwa di daerah KKN kami ini, 'ilmu' masih sangat kuat. Korcam kami ini berasal dari daerah yang juga masih kuat 'ilmu'nya.

Selama KKN dulu, aku belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana membina anggota kelompok, bertingkah dalam masyarakat, hingga hal kecil seperti mencuci pakaian sendiri karena aku mahasiswa rumahan yang masih tinggal dengan orang tua. Banyak kenangan manis dan pahit juga yang aku rasakan. Capek-capekan bersama dalam mengurus acara, gotong royong, seru-seruan hiking ke air terjun, pergi mancing ke bendungan, dan banyak hal lainnya yang tak terlupakan. Terlebih perpisahan dengan anak SD dan juga anggota kelompok. Haru biru dengan diiringi tangis dan air mata, tanpa terkecuali yang cowok.

Ada satu kisah yang bagiku sangat memalukan pas KKN. Jadi ceritanya pas H-1 kepulangan kami, kami mengadakan perpisahan di masjid dekat posko kami dengan mengundang seluruh warga desa. Dan selaku Kordes, aku harus memberikan setidaknya sepatah-duapatah kata perpisahan. Jujur, aku belum pernah tampil di muka umum karena memang ga suka. Karena keadaan mengharuskan, jadi aku minta tolong ke wakil kordes yang sudah berpengalaman untuk mengajarkan how to speak publicly.

Acara dimulai ba'da isya, sekitar pukul 20:00. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:50 namun tak ada satupun dari kami yang berada di masjid. Aku masih sibuk menghapal kata perpisahan sampai lupa bahwa celana yang kupegang belum terpasang sejak tadi. Aku menghapal kalimat demi kalimat mutar-mutar di kamar sambil mengenakan kolor, dengan baju batik terpasang rapi. Meski  kami tinggal di rumah Kades, posko kami punya pintu langsung menuju luar rumah. Berhubung anak cewek masih menyiapkan konsumsi, salah satu perwakilan cewek pergi ke kamar kami dengan niat mengingatkan kami untuk segera ke masjid.

Nah, di sinilah petaka terjadi. Aku lupa bahwa temanku lagi ngeberesin posko cowok, jadi pintu posko dibiarkan terbuka. Dan aku, hanya dengan sempak, masih setia berkeliling di dalam posko sambil menghapal. Satu orang anak cewek pun datang ke depan pintu posko cowok. And then, voila! dia menyaksikan kejadian langka; aku pakai sempak. Sontak dia teriak. Anjrit malu kali aku saat  itu.

***

Biasanya saat KKN semua sifat tersembunyi manusia akan tampak. Bagi yang malas, ga mungkin mereka terus-terusan mencoba rajin selama 2 bulan, kecuali memang mereka ingin menjadi lebih baik. Bagi yang acuh tak acuh, ga mungkin mereka sok-sokan care terus-terusan. Disinilah kita belajar bagaimana bersikap. Dan tugasku sebagai kordes juga mengingatkan mereka.

Awal KKN semua tampak baik-baik saja namun itu ternyata bom waktu, hingga setiap orang menunjukkan sifat asli masing-masing. Menurutku sih yang laki-laki ga ada masalah, karena hanya 4 orang. Nah, yang perempuan ini yang sulit. Hingga masa KKN berakhir, anggota KKN cewek di kelompokku terpecah menjadi dua kubu, anak dalam dan anak luar. Penamaan ini dilakukan karena anak dalam biasanya tidur di dalam kamar, sedangkan anak luar tidur di luar kamar karena kamar di posko kami hanya satu. Sedangkan anak cowok tidur di kamar ekstra di rumah Pak Kades.

Pecahnya anak luar dan anak dalam karena yang biasanya aktif dalam acara, aktif bersosialisasi dengan penduduk dan dalam mayoritas kegiatan adalah anak luar. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan sosial karena anak dalam sehari-hari hanya di dalam kamar dan juga kecemburuan dari anak dalam terhadap anak luar karena lebih dekat dengan kami, para cowok. Beberapa kali aku ingatkan kepada anak dalam untuk berubah, tidak hanya di kamar terus selama KKN, namun paling berlaku hanya satu-dua hari saja. Hingga aku akhirnya merasa 'ah, sudahlah'.

Kadang aku merasa lebih baik KKN di daerah yang agak terpencil, yang biasanya animo masyarakat menyambut anak KKN sangat tinggi. Tapi yah, yang sudah ya sudahlah. Ambil yang baiknya, tinggalkan yang buruknya. Toh dari cerita-cerita KKN yang kudengar, banyak yang lebih buruk dari cerita KKN kami.

Buat kawan-kawan yang akan melaksanakan pengabdian, ada beberapa tips nih dari aku;
  1. Saat KKN lah kesempatan kita memperbaiki diri. Jangan sia-siakan.
  2. Cobalah bekerjasama dengan sesama kelompok. Percayalah, perpecahan itu ga enak
  3. Sikap kita menentukan segalanya. Jika susah bagi kita untuk berlaku berlawanan dengan sifat asli kita kepada sesama anggota kelompok, setidaknya buat pengecualian terhadap penduduk desa.
  4. Kerjakan apa yang harusnya kita kerjakan dalam kelompok. Anda akan menemui indahnya kerjasama disana
  5. Terbuka terhadap warga desa, tapi jangan lupa mawas diri. Yang bisa menjaga kita adalah diri kita sendiri. Saat aku KKN dulu ada 2 korban yang meninggal, diberitakan karena penyakit. Namun isu yang beredar bahwa mereka korban 'ilmu' daerah mereka
  6. Selaras dengan poin nomor 5, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Patuhi peraturan daerah KKN baik yang tersurat maupun tersirat secara adat.
yah sekian postinganku malam ini, semoga sukses bagi kalian yang ingin melakukan pengabdian ^^

LGBT; Mereka di Sekitar Kita

Jadi gini, sekitar dua minggu yang lalu, aku disuruh membeli -atau lebih tepatnya mencari- obat diare, sebut saja neo entrostip. Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah dua malam. Setelah berkeliling mencari, akhirnya aku menemukan apotik yang masih buka. Kemudian aku masuk ke toko, menanyakan obat tadi kepada bapak penjualnya. "Alhamdulillah ada", pikirku. Well, sampai bagian ini everything seems normal. Jadi kemudian setelah aku membayar obat tadi dan pas mau keluar dari apotik tersebut, bapak tadi manggil lagi.

Percakapannya begini kira-kira :
B (bapak penjaga apotik) : dek, ini ada sabun untuk kulit, cocok buat hilangkan jerawat, biang keringat, dll
A (aku) : (planga-plongo)
B : biasanya kan kalau kita pakai singlet atau roll on, ada bekas di kulit. nah, bekas itu bisa hilang pakai sabun ini
A : (mulai tertarik) berapaan pak harganya?
B : Rp. 15.000 dek. kalau pakai sabun ini, bekas-bekas pemakaian singlet atau roll on di badan bisa hilang (seraya memegang-megang daerah yang disebutkan tadi di badanku)
A : (diam memperhatikan)
B : atau bisa juga, kalau ada bekas-bekas pemakaian celana, atau karet celana dalam, bisa juga. disini nih (meraba aku lagi)
A :  (mulai risih)
B : atau kan ada nih kadang di selangkangan bekas karet celana dalam, atau di antara kedua kaki, tergesek-gesek bisa juga hilang bekasnya (sambil meraba daerah yang disebutkan)
A : (risih, tapi semacam penasaran. bener ga ini orang golongan LGBT atau ngga. sekalian menguji apakah si john di bawah bereaksi atau tidak)
B : (mengulangi) dekat selangkangan atau antara kedua kaki, kalau ada bekasnya bisa juga hilang (sembari meraba (lagi), dan sesekali clingak-clinguk ke luar, takut ketahuan kali)
A : oke fix ini maho dan alhamdulillah si john ga merespon (dalam hati). ooh yaudah pak, kapan-kapan aja
B : ga masalah, ga mesti sekarang dek
A : (ngacir) 

Anjrit pengalaman pilu, mungkin bisa masuk koran MX di bagian black xstory. Awalnya kupikir bapak tadi promo sabun sambil megang gitu karena profesionalitas. Dan juga aku mau membuktikan, ternyata ga ada sedikitpun dari aku bagian dari mereka dengan bukti si john-ku tidak "tegang".
huahahaha.
Alasan aku menganggap bapak itu fix LGBT yang pertama dia meraba-raba. Bagaimanapun, meskipun sesama batangan juga, meraba selangkangan bagian dalam dekat daerah testis pasti rasanya agak gimana gitu. Dan berulang-ulang. Kedua, apa dasar dia melihat-lihat ke luar pada saat meraba-raba? apakah takut kalau-kalau ada orang lain melihat? dan yang terakhir, kejadiannya pas lagi hangat-hangatnya isu bang ipul. Tentu saja aku jadi mikir kesana.

Dan begitulah aku mengalami kisah pilu ini, awas bagi kalian yang cowok, zaman sekarang bukan cewek aja yang berbahaya kalau keluar malam. Salah-salah ntar kena seruput tuh belalai. Bukan berarti cewek aman-aman aja. Pokoknya tetap waspada kalau keluar malam guys. 

Pesan moral : kumis dan jenggot tidak bisa jadi acuan bahwa orang tersebut bukan kaum LGBT.

First post

Akhirnya terealisasikan juga keinginan buat blog dari beberapa bulan lalu. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, aku mulai bosan juga dengan keseharian gaming-tidur. Entah dapat ide darimana, tiba-tiba aja ingin buat blog. setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya jadi juga ini blog. banzaaaaai!!
Seperti menurut imam Al-Ghazali : "jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah." namun dengan sedikit improvisasi di akhirnya; ...mengetiklah. Mengetik, ya? tiba-tiba teringat proposal yang masih setengah jalan. Oke lupakan. Blog ini rencananya akan aku isi dengan apa saja yang menurutku menarik untuk di post, entah itu tentang hobi, lika-liku kehidupan, fenomena, kisah cin... yang satu itu ngga deh.
Oke sekian kayanya sapaannya, soalnya kucing udah manggil minta makan. ciao!

Dualisme Entitas: Auditor dan Pemeriksa di Kejaksaan

  Udah lama juga ya ga nulis (hehe). Ini tulisan pertamaku sejak aku lulus jadi PNS di Kejaksaan dengan formasi auditor. Jadi di Kejaksaan i...