Vlog BPJS Ketenagakerjaan


Kali kedua saya  mendaftar rekrutmen BPJS Ketenagakerjaan. Tahun lalu saya ikut juga, gagal di tes online (suram bener).  Tahun ini rekrutmennya agak unik. Para pendaftar diharuskan membuat video (vlog) yang harus diunggah pada tangal 1  Februari 2019 di Instagram dan Youtube dan tag ke akun BPJS dan akun rekrutmen BPJS.

Berbagai spekulasi muncul akibat syarat vlog ini. Ada yang menganggap ini bentuk promosi. Ada juga yang menganggap ini suatu bentuk seleksi alam  mengurangi peminat untuk mendaftar. Yang mana pun terserah sih. 

Sebagai manusia dengan kepercayaan diri minus, saya awalnya urung untuk mendaftar. Tapi setelah menimbang kembali, apa salahnya dicoba kan. Kalau gagal (semoga ngga) ya setidaknya pernah latihan jadi vlogger ehe. Toh juga nanti pada saat mengunggah video bisa diprivat khusus akun BPJS saja yang melihatnya. Dan juga bentuk latihan mengasah percaya diri, apalagi posisi yang kuincar itu bagian pelayanan dan pemasaran jalur S1.

Pertimbanganku lainnya yaitu saat ini mencari pekerjaan bagi FG (fresh graduate) sepertiku ini sangaaat susah. Jangan sampai status FG ini berubah jadi RG ya Allah. RG ini istilahku sendiri sih buat motivasi diri ehehe. Aneh memang, tapi bagiku fearmongering cukup ampuh dalam memotivasi.  Kepanjangannya bukan Rocky Gerung lho ya. RG (rotten graduate) titel sakti  buat FG yang ga dapat-dapat kerja  setelah sekian lama. Jangan sampai upgrade titel ke ini dah. Amin.

Untuk  videonya sendiri, berdasarkan contohnya sih menjelaskan secara singkat mengenai BPJS. Di akhir videonya harus pakai tagline Calon Pekerja Sadar BPJS Ketenagakerjaan. Kendati  disuruh unggah pada 1 Februari 2019, namun sejak beberapa hari yang lalu sudah cukup banyak yang mengunggah baik di Instagram maupun di Youtube.  Di Youtube malah ada yang buat video tutorialnya wkwk.

Saya kasih spoiler video saya deh ehehe. Sebenarnya ga suka  unggah-unggah video sih tapi ya berhubung ini blog kaya ndak ada  pengunjung, ga apalah. Toh paling yang lihat satu-dua orang. Sukur-sukur sampai segitu ahahaha. (edit : 20/03/2019 video was deleted).

Yah semoga  saja saya bisa lulus kali ini. Berdasarkan usia sih kesempatan saya masih tersisa sekali lagi tahun depan. Tapi ada  kabar yang mengatakan tahun depan tidak ada penerimaan pegawai baru. Semoga saya lulus.  Amin. Mulai lelah abang dek ikut tes terus~

Ayo Matikan Televisimu

Sudah lama saya berhenti menonton televisi. Terakhir saya rutin menonton televisi adalah pada era film kartun masih banyak tayang di hari Minggu. Kemudian intensitasnya berkurang seiring berkurangnya tayangan film kartun. Hingga akhirnya berhenti total dalam beberapa tahun belakangan.

Kita pernah punya acara yang cukup berkualitas pada zamannya. Sebut saja Tersanjung, Wiro Sableng, Si Toloy, MTV Ampuh, Kuis Siapa Berani (kalau yang ini masih ada sampai sekarang di TVRI) dll. Ah, good ol' days. Saya heran entah apa yang menyebabkan acara-acara di televisi bergeser hingga semeleset ini. Apakah karena budaya menerima apapun dari masyarakat, atau ketidakpedulian awak media dalam mencerdaskan (atau setidaknya ga menggoblokkan) masyarakat, ataukah gabungan keduanya?

Saya sih ga terlalu masalah terhadap acara-acara saduran dari televisi luar semisal Who Wants to be a Millionaire, Indonesian Idol, Indonesia's got Talent dan sejenisnya toh jika memang bagus, apa salahnya? Setidaknya diharapkan saduran itu bisa memberi inspirasi untuk membuat tayangan bagus di kemudian hari, cukup bagus sehingga kita yang biasa menyadur menjadi yang disadur. Kendati demikian, bukan acara total plagiat seperti shitnetron sinetron Kau Yang Berasal Dari Binatang Bintang yang membuat malu level antarnegara.

Bagiku tayangan-tayangan di televisi itu sama saja, apapun channelnya. Hanya beda judul/nama. Konsepnya sama; lawakan garing body shaming, penonton bayaran, sinetron genre musiman (misalnya genre tertentu laku, semua channel ikutan bikin genre yang sama), acara mistis-mistis buatan yang 'menjual' setan, dan yang paling parah menurutku yaitu acara fake yang dikesankan nyata seperti Termehek-Mehek dan Katakan Putus.

Mengapa berbahaya? sinetron, mau seasli apapun dibuat tetap kita tahu bahwa itu fiktif belaka. Dulu pernyataan ini sering dimuat sebelum sinetron tayang, tapi sekarang ga pernah kelihatan. Unnecessary they think, probably. Berbeda dengan acara fake yang terkesan nyata ini, tanpa disclaimer  apapun. Banyak yang percaya bahwa kejadian percekcokan/drama itu nyata. Padahal itu hanya cekcok/drama settingan yang diperankan oleh mereka yang gagal ngartis.

Coba bayangkan, masyarakat yang awalnya percaya, kemudian seiring berjalannya waktu sadar bahwa itu hanya settingan, mulai berhenti menontonnya. Kemudian acaranya naik ke level 'real' berikutnya. Kemudian masyarakat sadar lagi. Begitu terus berulang siklusnya. Hingga akhirnya masyarakat terkena skizofrenia massal, tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata, mana settingan. Lihat saja yang baru-baru ini kasus penggerebekan oleh Vicky Prasetyo. Masyarakat langsung men-judge bahwa itu settingan. Padahal jika itu nyata, kita telah kehilangan empati atas duka sesama. Yah walaupun aku juga yakin itu settingan sih (haha).

Sesekali ada sih saya nonton acara televisi, tapi di youtube. Kebanyakan sih acara berita/debat politik/investigasi. Meskipun kurang up to date (karena biasa muncul di youtube beberapa jam setelah tayang di televisi) tapi bisa kita setting speed x2 ehehe hemat waktu lebih dari 60% karena ga ada iklan juga.

Melalui tulisan ini, saya berharap saluran-saluran televisi di Indonesia ke depannya bisa memiliki kualitas yang bagus dan layak tonton. Untuk pemilik media, tolonglah hentikan acara-acara tidak bermutu. Jika tidak bisa mencerdaskan, setidaknya jangan menggoblokkan. Dan kita, sebagai konsumen, ayo bersikap kritis. Jika kita mau berhenti menonton acara-acara nirfaedah, mungkin media juga akan berubah. Yah tapi walau bagaimanapun, aku tetap pada posisi awalku : Ayo Matikan Televisimu.

Pancasila Milik Siapa?

4 tahun belakangan, kita mulai sering mendengar Pancasila digaungkan. Seiring dengan itu, radikal dan intoleran tak kalah sering juga diuar. Sebagai orang yang memandang Pancasila dalam kacamata netral--dalam artian tidak fanatik juga tidak anti--tentu awalnya saya senang ada yang mengingatkan kepancasilaan. Namun semakin lama gaungan itu tak hanya sekadar gaungan. Sebagian golongan Pancasila ini bisa dengan gampangnya menuduh orang lain anti Pancasila, makar, dan sebagainya. Aku yang awalnya netral, belakangan malah agak eneg mendengar Pancasila digunakan seenaknya. Kuharap aku ga benci Pancasila karena ini, karena bukan dialah yang salah. Tolong, jangan membuatku benci dengan pancasila.
                                                               
 *******

Tentu saya sadar betul, gerakan yang mirip fanatisme kepada Pancasila ini semakin membesar setelah kasus HTI, yang mana cukup disayangkan ternyata punya agenda tentang negara khilafah. Tetapi reaksi pemerintah yang kutangkap sih terlalu berlebihan padahal mostly member HTI ini salafi, yang notabene tunduk pada penguasa. Katanya sih karena anggotanya jutaan. Katanya.

Berbicara tentang Pancasila dan HTI tentu belum lengkap dong tanpa Banser. Ya, si so-called penjaga Pancasila. Sepak terjangnya belakangan di bawah pimpinan Yakut sangat kontroversial--yang dalam hal ini kuanggap buruk. Berapa kali mereka membubarkan pengajian, membuat prasyarat nyanyi lagu Indonesia Raya sebelum pengajian, hormat ke bendera, dan lain sebagainya. Yang terbaru mereka bakar Ar-Rayah dengan bangganya karena mereka meyakini itu bendera HTI. Apa hak mereka berbuat sedemikian rupa?

Terkadang aku kagum sama Banser ini. Anggotanya yang cukup terkenal, Permadi alias Abu Janda itu seorang maniak Nazi. Ada juga foto anggota Banser berjejer dua barisan berhadapan yang masing-masing hormat ala Hitler. Tapi kok bisa petingginya juga dekat dengan Yahudi yang punya dendam akibat sejarah kelam dengan Hitler? mungkin ini bisa menjadi bahan penelitian bagaimana oportunisme menyatukan semua (haha).

Indonesia punya beberapa ormas islam yang besar yang menurutku belakangan sedang adu kuat-kuatan. NU yang sekarang menurutku terlalu banyak penunggang, baik itu islam nusantara, islam liberal dan ada juga syiah. Oleh karena itu sebagian anggota NU membentuk NU Garis Lurus (NU GL) yang salah satu orang yang vokal menyuarakan itu Ustadz Abdul Somad. Mungkin inilah alasan mereka sering mempersekusi UAS. Dalam menanggapi kasus pembakaran Ar-Rayah pun, NU pecah suara. Tentu Yakut cs istiqomah dengan kengawurannya. Di sisi lain, FPI, MUI dan Muhammadiyah tampak solid. Bahkan UAS lebih memilih HRS daripada SAS (kesimpulan sendiri, setelah melihat beberapa ceramah UAS).

Banser ini kuat di Jawa. Di Sumatera mereka tak bisa apa-apa. Berapa kali mereka ditolak saat hendak mengadakan acara di Sumatera. Bagak kandang, begitulah orang minang menyebutnya. Mereka merasa penafsir tunggal Pancasila, leluasa menghakimi yang beda, padahal menurutku Pancasila itu mengakomodir semua, selama masih sewajarnya.

Dari tindak-tanduk mereka dengan mendaku diri paling Pancasila, menunjuk mereka yang beda sebagai radikal dan intoleran secara leluasa, kelakuan mereka yang seenaknya menjalani tugas polisi dan tentara seolah aparat tidak lagi ada dalam urusan Pancasila--kesampingkan dulu wacana tentang perlakuan hukum yang sama--apalagi polisi tampak mesra dengan mereka, belakangan timbul pertanyaan dalam benak saya;
Pancasila Milik Siapa?

It Is Pagang, Boi

Beberapa waktu lalu aku pergi ke Pulau Pagang. Namanya masyarakat Riau, kalau liburan hemat ya ke Sumbar, ehe. Area wisata di Riau sih ada beberapa, tapi  sedari dulu sebagian masyarakat terdoktrin dengan 'kalau masih di Riau ya bukan liburan namanya' (termasuk aku haha). Pulau ini masuk wilayah Sumatera Barat. Butuh sekitar 50 menit  dari Bungus.

Kami tiba malam hari, langsung cek in di Cavery Beach hotel. Lebih tepat disebut cottage deh rasanya, soalnya kamar kami nginap itu seperti kamar kos, dua kamar bersebelahan. Tapi lokasinya strategis, langsung menghadap laut. Cocok buat berbulanmadu, suara ena-ena bisa diredam oleh ombak (haha). Kami pergi berempat, menyewa hanya 1  kamar. Maklum, budget traveler. Alhasil  yah gitu, kami tidur berdempetan seperti ikan sarden karena kasurnya cuma satu.

Paginya aku dibangunkan oleh deburan ombak. Agak kesiangan  sih, untung masih sempat subuhan. Tanpa ba bi bu langsung aku keluar kamar, menyusuri garis pantai, nyari umang-umang (sebagian orang menyebutnya kelomang), manjat pohon yang tumbuh dekat pantai, dll. Temanku yang bawa mobil masih tidur, kecapekan. Sekitar pukul 9 pagi si beliau ini bangun. Langsung dah kami suruh bergegas siap-siap, kami bilang ke dia bahwa jadwal cek out  jam 10 pagi (padahal jam 12 siang).

Setelah cek out, kami pun berangkat ke pulau pagang. Untuk mencapai ke sana (dan beberapa pulau lainnya) sih kata temanku hanya sekitar 100 ribu, jangan  ambil paket wisata katanya. Sialnya kami hanya menemukan yang paketan. 250 ribu per kepala. Setelah nego, dapatlah 210 ribu per kepala. Kami bayar 850 ribu untuk berempat, tapi ga dikasih kembaliannya. Sialan.

skandal
Kami seperjalanan dengan kakak-adik yang cukup berumur, 40-45 tahun sih taksiranku. Mereka minta kami manggil mereka kakak aja (mereka manggil kami adek-adek montok). Yang bener aja, masa manggil kakak ke orang yang umurnya hampir sama dengan umur ibuku. Jadi yah gitu, terkadang ada pertentangan batin saat mau memanggil mereka, kadang manggil kakak, kadang tante, kadang ibu. Sepanjang perjalanan ke Pagang, temanku yang nyupir bawaannya galau aja. Lagi ribut dengan pacarnya. Karena tau hal tersebut, mulai deh tante-tante tadi godain kawanku ini. Tante-tante ini katanya berasal dari Ujung Batu. Salah satunya cerita bahwa ia baru cerai. Faedahnya share ke random people yang baru ditemui apaan anjir.

Setelah 50 menit bersama tante, akhirnya kami tiba di Pulau Pagang. Bye, have a wonderful day. Tadinya sih mau bilang gitu ke tante-tante itu, tapi ternyata bukan untuk di kapal aja, kami sepaket dengan tante-tante itu sampai pulang dari Pagang (ya allah). Secara personal aku ga ada masalah sih, tapi siapa coba yang mau liburannya direcokin tante-tante? asdfasdasfas.

dari kamera hp, tanpa filter apapun

Pulau Pagang ini lautnya cantik bener  deh. Ada gradasi warna air di dekat pantainya disebabkan oleh kedalaman airnya. Biru laut, keunguan, biru muda, ada tosca juga. Pasirnya putih bersih. Cantik deh. Kami sempat nemu  ubur-ubur juga. Banyak ikan warna-warni di perairan dangkalnya. Pulau ini berdekatan dengan Pulau Pamutusan dan Pulau Pasumpahan.

Dalam paket wisata ke Pagang, ada sesi foto dalam laut di dekat terumbu karang. Namun ternyata Pulau Pagang ga se-friendly penampakannya. Ternyata selain banyak ikan, perairan dangkalnya juga banyak bulu babi. Aku dan seorang temanku kena bulu babi. Perih euy. Pas kena bulu babi, kami tanyakan ke orang travelnya,  tapi mereka ternyata ga punya obat atau apapun untuk sekadar menutup luka. Kami tanyakan soalnya kan kenanya di lokasi yang mereka pilih untuk underwater photo.

Paket berikutnya  naik banana boat. Tante-tante tadi ikutan juga. Seperti biasa, banana boat akan menjatuhkan penumpangnya di sesi  terakhir. Setelah melihat make  up si tante luntur karena nyebur ke laut, kami putuskan tak akan memakai panggilan lain selain 'ibu' ke tante-tante ini.

tim lengkap

the view is lit AF

Selanjutnya kami ke Pulau Pasumpahan. Ada semacam bukit yang ga tinggi-tinggi amat, yang kalau naik ke puncaknya bisa kita lihat pemandangan indah pulau-pulau sekitarnya. Sayangnya keindahan ini terusak oleh sampah-sampah yang tampak di beberapa titik, walaupun tak banyak sih. Di puncaknya berkibar bendera merah putih (kaya di gunung aja).

f.r.i.e.n.d.s.h.i.p

Kemudian kami ke Pulau Suwarnadwipa  (masih dalam paket perjalanan). Berhubung parkiran kapalnya penuh, kami batal ke Suwarnadwipa. Langsung kembali ke Bungus (ga ada pengganti katanya). Setibanya di Bungus, kami minta file foto bawah air tadi. Ga ngerti juga setelah kami serahkan flashdisk, orang travelnya kekeuh bilang ntar fotonya dikirim via gmail. Setelah kami pergi dari Bungus, kami bingung. Gimana bisa mereka berjanji ngirim foto via gmail tanpa minta alamat gmail kami? asdasdafasdsaf.

Sepulang ke  rumah,  kami cari info travel tersebut. Kami dapat nomornya, tapi tiap nelpon ga pernah diangkat. SMS pun ga pernah dibalas. Nomor tersebut ter-link dengan akun Line. Kami coba hubungi, ga ada respon  sama sekali. Beberapa hari kemudian, masuk notifikasi Line dari pihak travel,  ternyata broadcast doang. Telor. Bisa-bisanya mereka promosi ke pelanggan  yang  minta kirim foto (yang ga pernah digubris). Masuk blacklist dah ini travel. Nama travelnya sih kurang tau, tapi contact person dan  orang yang melayani kami saat itu namanya Andi.

Nah ya gitu, perjalanan berakhir bahagia berhias dongkol. 

Trip to Langkuik Tamiang Waterfall

Sebagai mahasiswa yang lambat tamat, aku sering diajak teman-temanku yang akan ikut tes mencari kerja. Sebagai pemandu sorak mungkin. Dan tentu aku dengan senang hati ikut, tapi dengan syarat ada jalan-jalannya setelah tes.

Kira-kira setahun lalu temanku mengajakku ikut, temani tes di Sumbar katanya. Aku pun ikut. Dari kotaku ke lokasi tes memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi berhubung teman yang bawa ini pro, perjalanan kami tempuh sekitar 6,5 jam saja. GG emang. Padahal  berangkatnya malam sampai subuh, tanpa kopi pula.

Tes pun usai keesokan harinya. Sesuai janji (teman yang ngajak ini tepat janji terus) kami pun sibuk mencari destinasi trip yang bagus. Referensinya bisa dari google atau sosial media, ada juga nanya ke teman yang tinggal di daerah Sumbar. Untuk referensi dari instagram, hati-hati deh. Banyak yang over-edited, sehingga saat tiba di lokasi tidak sesuai ekspektasi. Karena sudah lama ga ke air terjun, aku pun menyarankan mereka ke air terjun aja.

Tibalah kami di daerah malalak, sicincin. Kami berhenti di kedai warga, bertanya mengenai air terjun di daerah sekitar sana. Ternyata ada banyak. Ada langkuik tinggi, langkuik tamiang, terus ada juga air terjun yang ada semacam patung pisau gitu yang katanya dulu daerah latihan Kopassus, satunya lagi lupa namanya.

Awalnya kami mau ke langkuik tinggi, yang katanya tingginya sekitar 100 meter, tapi di sana dilarang berenang karena debit airnya terlalu deras. Saat sampai di dekat jalan masuk ke air terjun tersebut, ternyata jalan menuju ke sana ditutup. Sedang ada sengketa antardesa katanya. Beralih ke plan B. Kami putar arah menuju langkuik tamiang.

Sampai akhirnya kami di jalan yang katanya menuju langkuik tamiang. Kami memakai jasa guide setempat, seorang mahasiswa UNAND (lupa namanya). Jalan menuju air terjun melewati hutan. Kami agak kaget kok di hutan tersebut banyak pohon yang ditebang. Ternyata itu pohon kayu manis, sedang panen katanya.

Penampakannya
Temanku bilang perjalanannya seperti naik gunung(belum pernah naik gunung--walaupun sangat ingin-- jadi  kuiyakan aja) yang mana kalau berpapasan di jalan, kita selalu dipanggil pak. Meskipun yang manggil pak itu seumuran ayahku (haha). Si Guide bercerita, air terjun ini termasuk yang kurang terekspos, jadi masih alami. Sekitar tahun 2014 ada anak SMA pergi ke air terjun tersebut, tapi naas, tiba-tiba ada air bah. Korban dinyatakan hilang.

Ditemukan manusia harimau
Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya kami sampai di lokasi. Letihku terbayar lunas. Berasa air terjun pribadi, karena hanya kami yang ada di lokasi. Debit airnya sedang kecil sih kata si Guide. Airnya dingin, bening, bersih. Mau minum langsung teguk. Terbaique. Aku langsung nyebur dong, kapan lagi kan nemu air terjun seperti ini. Yang lain masih foto-foto, aku udah topless, langsung ke tempat airnya mengalir. Bertapa kaya di Naruto.

Dua jam lebih kami di air terjun. Di perjalanan pulang, temanku kena lintah (FYI, sekitar 1/5 treknya melewati aliran sungai). Karena habis dari sungai, sendalku putus. Basah-basahan + tanah lembek beneran kombo yang buruk bagi sendal user. Sialnya di rombongan hanya aku yang pakai sendal. Pas balik dari air terjun, nyeker sendiri.

Berhubung pakaian ditinggal di mobil, ga ada dari kami yang ganti baju setelah basah-basahan. Kami pun mencari mesjid terdekat untuk mandi. Tak lupa sebelum itu kami kasih si Guide tip 100 ribu. Ketemu mesjid yang kamar mandinya berbilik-bilik gitu, tiap bilik bersekat setinggi 1 meter. Ada 6 bilik,  cukup untuk kami yang hanya 5 orang. Saat mandi divideokan pula oleh kawan yang mandi di bilik paling ujung. Kampret emang. Aib. Untungnya ga disebar dan jadi viral.

Sekian dulu deh rasanya, adieu~





Bertarung di air terjun

A Journey to Batam and some other Islands

    Yah, walaupun agak telat hampir sebulan, hype liburan ke Batam yang lalu masih terasa hingga sekarang. Tanggal 23 agustus kemarin, aku dan kawan-kawan dekat rumah; Budi, Hadi, Bagong (selanjutnya disebut kami) pergi berpetualan ke Batam-Tanjung pinang-Penyengat selama 5 hari. Kebetulan (sebenarnya sengaja sih) dapat tiket murah setelah mencari di taravaloko dengan keberangkatan dari Bandara SSQ II-Hang Nadim PP sekitar Rp. 530.000. Tentunya hanya dengan si merah murah yang bisa begini.

    Di situs pemesanan, waktu keberangkatan dijadwalkan pukul 10.30 WIB dan karena kami naik si singa, jadinya yah gitu, delay hingga pukul 12.00. Kami naik ke pesawat sebagai penumpang terakhir (haha) setelah akhirnya sadar bahwa panggilan terakhir keberangkatan itu ditujukan untuk kami (haha lagi). Di pesawat, kami mendapat kursi paling belakang--dan tersempit tentunya dan lagi, aku duduk terpisah dari mereka bertiga. Apesnya, di sebelahku ibu-ibu pendiam yang kalau aku ajak bicara hanya diam tanpa merespon. Jadinya yah, gitu, selama perjalanan aku diam, menung, mainin buku bacaan, bernafas, pegang-pegang jendela, dan hal ga penting lainnya. Sedangkan temanku yang bertiga heboh, seru-seruan apalagi si Bagong, masa manggil mbak pramugarinya sayang huehehe jomblo sekarat.

    Sesampainya di batam, kami langsung menuju pelabuhan dengan taksi. Taksi tersebut sempat kami tawar, jadi harga finalnya Rp. 80.000 dari Hang Nadim-Punggur. Dan kampretnya, kami minta antar ke pelabuhan feri, malah diantar ke pelabuhan roro (mungkin karena kami pakai nawar kali ya). Terpaksa deh, jalan sekitar beberapa ratus meter gitu. Dari Batam, kami langsung menuju Tanjung Pinang hari itu juga. Temanku pernah bilang, kalau teh hangat di Tanjung Pinang disebut teh o, dan teh es disebut teh obeng(jangan tanya aku alasannya, serius ga tau), juga berlaku untuk kopi. Sepertinya roti boy KW super yang bernama roti o berasal dari sini soalnya ada toko roti o di pelabuhannya.

    Di Tanjung Pinang kami menyewa motor, 80k/hari dengan syarat tinggalin KTP asli. Aku dan Budi menyewa Yamihi Mia, sedangkan Bagong dan Hadi menyewa Hondi Baet. Karena helm yang ada hanya 1, pemilik usaha tersebut membelikan 3 helm baru, helm bocah yang buat anak 5 tahunan itu. Akupun langsung menyelamatkan diri, karena sadar memiliki kepala besar(bukan besar kepala ya), mengambil helm dewasa satu-satunya yang kemudian menyebabkan gatal-gatal di kepala (haha). Dari Tanjung Pinang kami langsung menuju ke daerah Kijang, untuk menginap di rumah mbahnya Bagong. Kami sempat nyasar sih beberapa kali, soalnya Bagong terakhir kesana aja pas kelas 3 SD.

    Malamnya, sehabis magrib ketiga temanku dapat telepon dari orang tuanya menanyakan udah sampai dan sebagainya. Mamaku? udah biasa mah anak bujangnya pergi-pergi, jadi ya biasa aja, bukannya ga peduli, tapi menurutku disitulah kita tau bahwa orangtua kita telah percaya sepenuhnya kepada kita. Misalnya aja si bagong, orangtuanya nelpon tadi nyuruh balikin motor yang disewa (yang bener aja) karena menurut mamanya, kalau ada motor pasti kerjaannya keluyuran (yakali namanya juga jalan-jalan).

    Malamnya kami keluar juga sih, sekedar jalan-jalan mengenal tempat baru. Esoknya kami jam 7 pagi udah berangkat dengan destinasi pertama pantai trikora. Mengenai pantai trikora, ga mengecewakan dah udah pergi ke sana. Pantainya cantik, putih, bersih, terawat, tinggi semampai, berhijab. Kemudian aku sadar itu kakak-kakak penjual air kelapa. Di beberapa tempat ada bebatuan gitu. Disana kami menyewa pondok gitu, 40k/hari. Banyak yang kami lakukan disana, mulai dari yang mainstream (foto-foto, minum air kelapa dll) hingga anti mainstream seperti lomba lari di air, lomba renang lawan ombak hingga menjemur sempak di pepohonan (maklum backpacker, mesti hemat pakaian huahaha).

    Sekitar habis zuhur kami berangkat dari trikora menuju daerah lagoi, yang juga terkenal sebagai Balinya Kepulauan Riau.
    Apa aja petualangan kami disana? nantikan bagian duanya, udah ngantuk soalnya.
Adieu~
Pantai Trikora


Pantai Trikora

KKN Hypee!!

Musim KKN tiba. Mahasiswa di bawahku mulai sibuk mencari lokasi KKN yang 'enak'. Dalam hal ini definisi enak mereka beragam, mulai dari lokasinya dekat kota, banyak tempat wisata, atau sekedar dekat dari rumah.

Meskipun setahun berlalu setelah aku melewati masa KKN, masih banyak kenangan yang aku ingat jelas hingga saat ini. Kelompok KKN kami beranggotakan 15 orang, dengan 4 laki-laki dan 11 perempuan. Dan aku adalah *ehm* Kordes (Koordinator Desa) di kelompokku. Susah memang menyatukan pikiran dengan berbagai manusia dengan latarbelakang beragam yang secara tak sengaja disatukan dalam satu rumah.

Jika dilihat dari lokasi, tempat KKN ku terbilang favorit kebanyakan orang. Hanya 1 jam dari kota Pekanbaru, sudah ada listrik, air lancar, dan sudah cukup maju dengan komparasi tempat KKN kebanyakan. 

Di kelompokku ada satu cewek (cakep gan) bisa ngelihat 'mereka', para makhluk astral. Dia sering cerita padaku tentang penampakan-penampakan di sekitar posko KKN juga cerita kalau malam ia sering diganggu saat tidur. Dia bilang hanya cerita padaku karena kalau cerita ke anggota lain mungkin mereka akan panik, karena sejak awal kami menempati posko, kami telah diperingati sama Korcam (Koordinator Camat) yang juga berada dalam kelompokku bahwa di daerah KKN kami ini, 'ilmu' masih sangat kuat. Korcam kami ini berasal dari daerah yang juga masih kuat 'ilmu'nya.

Selama KKN dulu, aku belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana membina anggota kelompok, bertingkah dalam masyarakat, hingga hal kecil seperti mencuci pakaian sendiri karena aku mahasiswa rumahan yang masih tinggal dengan orang tua. Banyak kenangan manis dan pahit juga yang aku rasakan. Capek-capekan bersama dalam mengurus acara, gotong royong, seru-seruan hiking ke air terjun, pergi mancing ke bendungan, dan banyak hal lainnya yang tak terlupakan. Terlebih perpisahan dengan anak SD dan juga anggota kelompok. Haru biru dengan diiringi tangis dan air mata, tanpa terkecuali yang cowok.

Ada satu kisah yang bagiku sangat memalukan pas KKN. Jadi ceritanya pas H-1 kepulangan kami, kami mengadakan perpisahan di masjid dekat posko kami dengan mengundang seluruh warga desa. Dan selaku Kordes, aku harus memberikan setidaknya sepatah-duapatah kata perpisahan. Jujur, aku belum pernah tampil di muka umum karena memang ga suka. Karena keadaan mengharuskan, jadi aku minta tolong ke wakil kordes yang sudah berpengalaman untuk mengajarkan how to speak publicly.

Acara dimulai ba'da isya, sekitar pukul 20:00. Waktu sudah menunjukkan pukul 19:50 namun tak ada satupun dari kami yang berada di masjid. Aku masih sibuk menghapal kata perpisahan sampai lupa bahwa celana yang kupegang belum terpasang sejak tadi. Aku menghapal kalimat demi kalimat mutar-mutar di kamar sambil mengenakan kolor, dengan baju batik terpasang rapi. Meski  kami tinggal di rumah Kades, posko kami punya pintu langsung menuju luar rumah. Berhubung anak cewek masih menyiapkan konsumsi, salah satu perwakilan cewek pergi ke kamar kami dengan niat mengingatkan kami untuk segera ke masjid.

Nah, di sinilah petaka terjadi. Aku lupa bahwa temanku lagi ngeberesin posko cowok, jadi pintu posko dibiarkan terbuka. Dan aku, hanya dengan sempak, masih setia berkeliling di dalam posko sambil menghapal. Satu orang anak cewek pun datang ke depan pintu posko cowok. And then, voila! dia menyaksikan kejadian langka; aku pakai sempak. Sontak dia teriak. Anjrit malu kali aku saat  itu.

***

Biasanya saat KKN semua sifat tersembunyi manusia akan tampak. Bagi yang malas, ga mungkin mereka terus-terusan mencoba rajin selama 2 bulan, kecuali memang mereka ingin menjadi lebih baik. Bagi yang acuh tak acuh, ga mungkin mereka sok-sokan care terus-terusan. Disinilah kita belajar bagaimana bersikap. Dan tugasku sebagai kordes juga mengingatkan mereka.

Awal KKN semua tampak baik-baik saja namun itu ternyata bom waktu, hingga setiap orang menunjukkan sifat asli masing-masing. Menurutku sih yang laki-laki ga ada masalah, karena hanya 4 orang. Nah, yang perempuan ini yang sulit. Hingga masa KKN berakhir, anggota KKN cewek di kelompokku terpecah menjadi dua kubu, anak dalam dan anak luar. Penamaan ini dilakukan karena anak dalam biasanya tidur di dalam kamar, sedangkan anak luar tidur di luar kamar karena kamar di posko kami hanya satu. Sedangkan anak cowok tidur di kamar ekstra di rumah Pak Kades.

Pecahnya anak luar dan anak dalam karena yang biasanya aktif dalam acara, aktif bersosialisasi dengan penduduk dan dalam mayoritas kegiatan adalah anak luar. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan sosial karena anak dalam sehari-hari hanya di dalam kamar dan juga kecemburuan dari anak dalam terhadap anak luar karena lebih dekat dengan kami, para cowok. Beberapa kali aku ingatkan kepada anak dalam untuk berubah, tidak hanya di kamar terus selama KKN, namun paling berlaku hanya satu-dua hari saja. Hingga aku akhirnya merasa 'ah, sudahlah'.

Kadang aku merasa lebih baik KKN di daerah yang agak terpencil, yang biasanya animo masyarakat menyambut anak KKN sangat tinggi. Tapi yah, yang sudah ya sudahlah. Ambil yang baiknya, tinggalkan yang buruknya. Toh dari cerita-cerita KKN yang kudengar, banyak yang lebih buruk dari cerita KKN kami.

Buat kawan-kawan yang akan melaksanakan pengabdian, ada beberapa tips nih dari aku;
  1. Saat KKN lah kesempatan kita memperbaiki diri. Jangan sia-siakan.
  2. Cobalah bekerjasama dengan sesama kelompok. Percayalah, perpecahan itu ga enak
  3. Sikap kita menentukan segalanya. Jika susah bagi kita untuk berlaku berlawanan dengan sifat asli kita kepada sesama anggota kelompok, setidaknya buat pengecualian terhadap penduduk desa.
  4. Kerjakan apa yang harusnya kita kerjakan dalam kelompok. Anda akan menemui indahnya kerjasama disana
  5. Terbuka terhadap warga desa, tapi jangan lupa mawas diri. Yang bisa menjaga kita adalah diri kita sendiri. Saat aku KKN dulu ada 2 korban yang meninggal, diberitakan karena penyakit. Namun isu yang beredar bahwa mereka korban 'ilmu' daerah mereka
  6. Selaras dengan poin nomor 5, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Patuhi peraturan daerah KKN baik yang tersurat maupun tersirat secara adat.
yah sekian postinganku malam ini, semoga sukses bagi kalian yang ingin melakukan pengabdian ^^

Dualisme Entitas: Auditor dan Pemeriksa di Kejaksaan

  Udah lama juga ya ga nulis (hehe). Ini tulisan pertamaku sejak aku lulus jadi PNS di Kejaksaan dengan formasi auditor. Jadi di Kejaksaan i...